Tahun 2013 Masehi mulai dimasuki, syukurlah tanpa kendala dan
tanpa melalui kiamat yang diramalkan suku Maya. Waktu terus berjalan dan tidak
ada satu orang pun mampu menghentikan waktu, karena waktu memang sangat penting
dalam kehidupan manusia.
Sulit dibayangkan bagaimana kehidupan tanpa patokan waktu yang
jelas. Bila sedang banyak pekerjaan, tentu kita berharap satu hari berjalan
lebih dari 24 jam, tapi bila sedang tidak banyak pekerjaan rasanya waktu berjalan
lambat, dari menit ke menit berikutnya terasa sewindu. Siapa sih yang
membuat satu hari hanya 24 jam, kenapa tidak lebih menjadi 36 jam misalnya ? Satu minggu juga kenapa 7 hari dan
satu bulan itu 28, 29, 30 atau 31 hari ?
Setelah membaca sejarah kalender, woww ternyata, memang panjang sekali
perjalanan sejarah kalender atau perwaktuan itu. Penentuan waktu ternyata hasil
asimilasi pengaruh berbagai bangsa dan berbagai zaman. Bukan kita saja yang
hidup di zaman modern, yang merasakan betapa besarnya arti waktu tapi sudah
sejak zaman batu, orang membutuhkan patokan waktu, terutama untuk memulai
pertanian atau aktifitas kehidupan di zaman itu. Konon stone henge dekat Salisbury
di desa Wiltshire Inggris yang dibangun 5000 tahun y.l., diperkirakan oleh beberapa
ahli sejarah patokan waktu manusia pada zamannya.
Bagaimana
dengan penentuan satu minggu itu terdiri dari 7 hari, satu hari itu 24 jam, kemudian
satu jam itu 60 menit ? Bila kita melirik ke belakang
penentuan ini memiliki sejarah yang panjang. Konon
bisa ditelusuri balik sampai ke zaman Mesir kuno dan Mesopotamia, oww
zaman baheula banget ..
Sejarah Pembagian Hari dalam 24 Jam
Konon bangsa Mesir kuno, sudah dari
dulu membagi malam misalnya berdasarkan kerja 12 bintang, bagi mereka bila
bintang tertentu memperlihatkan diri, maka tahulah mereka bahwa satu jam telah
berlalu. Maka kemudian, walaupun di siang hari bintang-bintang tidak terlihat,
namun orang-orang Mesir kuno ini memutuskan untuk membagi siang hari juga
menjadi 12 bagian. Kemudian bagaimana dari satu jam menjadi 60 menit, konon
dipengaruhi oleh kebesaran peradaban tinggi bangsa Babilonia, yang
memperhitungkan angka selalu dalam 60.
Sejarah Pembagian Satu Minggu dalam 7 Hari
Demikian juga dengan pembagian satu
minggu menjadi 7 hari dan asal namanya, dikabarkan berasal dari bangsa
Babilonia, yang mengurut hari berdasarkan nama-nama dewa planet, yang terlihat
yakni matahari, bulan, saturnus, yupiter, mars, venus dan merkurius.
Kemudian di zaman antik, nama-nama
ini diambil alih oleh bangsa Yunani dan Romawi bahkan juga oleh India (bahasa
Sansekerta) dan Jepang. Berbeda dari bahasa Itali, Perancis dan Spanyol yang
masih setia mempertahankan nama-nama hari seperti ketika diambil alih dari
bangsa Babilonia, bahasa Jerman dan bahasa Indonesia tidak mempertahankan
nama-nama itu. Dalam bahasa Indonesia selain untuk Minggu dan Sabtu, Senin
sampai Jumat berasal dari bahasa Arab.
Kata Senin dari Isnain berarti dua, kata Selasa berarti tsalasah yang
artinya tiga, kata Rabu berarti ar
rab’ah artinya empat, kata Kamis atau khamis berarti lima dan kata Jumat diambil dari Jumu’ah yang
berarti ramai. Sedangkan Minggu, dalam bahasa Melayu lama, kata ini dieja
sebagai Dominggu. Baru sekitar akhir abad ke 19 dan
awal abad ke 20, kata ini dieja sebagai Minggu. Sedang Sabtu konon diambil dari bahasa Ibrani, sabbat yang
berarti “dia berhenti”.
Tidak ada petunjuk apakah 7 hari
dalam seminggu pernah terputus pemakaiannya atau berubah karena adanya
reformasi perkalenderan, bila demikian halnya berarti siklus hari dalam
seminggu ini tidak berubah sejak zaman nabi Musa (kurang lebih 1300 sebelum
Masehi).
Sejarah Pembagian Hari dalam Setahun
Sekarang bagaimana dengan tahun? Satu tahun terdiri dari 52
minggu. Kalender yang banyak berlaku sekarang ini adalah kalender dengan sistem gregorianis. Sistem kalender
ini menurut asal muasalnya ada 4 jenis :
- Berdasarkan perhitungan jalannya matahari, misalnya kalender
Gregorianis, dll.
- Berdasarkan
perjalanan bulan, misalnya kalender Islam dan untuk perhitungan
paskah, dll.
- Berdasarkan matahari
dan bulan, misalnya kalender yahudi, kalender Cina, dll.
- Berdasarkan sistem
lain, misalnya siklus Tzolkin dari kalender Maya, kalender Pawukon atau
Wuku di Bali, kalender Wetonan, dll.
Sistem Gregorianis yang berdasarkan
jalannya matahari ini menggantikan kalender Yulianis dan Romawi. Kalender
Romawi ini terdiri dari 10 bulan saja dan bulan pertamanya adalah bulan Maret,
karena Mars adalah dewa paling penting di zaman Romawi, karena itu tidak heran
September bulan sembilan berasal dari bahasa Latin atau bahasa Itali sette yang
artinya 7, Oktober dari kata delapan dalam bahasa Itali otto dan November dari kata sembilan,
bahasa Itali nove. Namun ketika kalender ini digunakan, musim dingin akhirnya jatuh di musim
gugur, karena itu pada tahun 46 sebelum Masehi terjadi kekacauan waktu sehingga
Yulius Cesar mereformasi kalender yang kemudian dikenal dengan nama kalender
Yulianis dan dipakai selama hampir 1600 tahun kemudian.
Kalender Yulianis lalu akhirnya digantikan juga oleh Kalender
Gregorianis yang berlaku sampai sekarang karena tahun matahari lebih pendek 11
menit dan 14 detik setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan dalam waktu 128 tahun,
satu tahun menjadi berkurang satu hari dan tahun 1580 setelah hampir 1600 tahun
digunakan, menjadi berkurang 10 hari. Untuk itu, perhitungan hari Paskah
menjadi masalah, singkat kata Paus Gregor XIII akhirnya memberlakukan Kalender
Gregorianis dengan menambahkan setiap 4 tahun sekali, 1 hari di bulan Februari,
yang kita kenal sekarang dengan tahun kabisat.