Kalajengking adalah hewan
penyengat yang sangat berbahaya. Hewan ini sudah ada sejak 400 juta tahun lalu.
Diperkirakan ada sekitar 600 spesies yang tersebar di bumi ini.
Kalajengking tergolong Arthropoda
pengganggu kesehatan. Ia menjadi perhatian manusia karena kemampuannya menimbulkan
kasakitan dan katakutan akan racun yang dikeluarkan ketika menyengat. Kalajengking
juga merupakan komponen penting di dalam suatu ekosistem, dan merupakan satu di
antara Arthropoda Terstian tertua. Fosilnya sejak zaman Paleozoik 430 juta
tahun yang lalu dengan penampilan yang serupa dengan yang ditemukan saat ini.
Kalajengking merupakan artropoda
beracun, kerabat laba-laba, tungau, caplak dan lain-lain. Kini diketahui 1400 jenis
di seluruh dunia. Kalajengking punya tubuh yang panjang dan ekor beruas yang berujung
sebagai penyengat beracun. Kakinya terdiri atas empat pasang dan sepasang pedipalpi
dengan bentuk seperti pinset di ujung, yang digunakan untuk menangkap mangsa.
Kalajengking mendiami habitat
yang luas mulai dari gurun, hingga hutan, gua dan padang rumput luas, bahkan ditemukan
di bawah tumpukan batu salju pada ketinggian di atas 12.000 kaki di pegunungan Himalaya
Asia. Contoh jenis kalajengking yang banyak ditemukan di Asia termasuk Indonesia
adalah jenis Heterometrus Spinifer (Asian forest scorpion).
Sebagaimana Arachnida,
kalajengking mempunyai mulut yang disebut khelisera, sepasang pedipalpi, dan empat
pasang tungkai. Pedipalpi seperti capit terutama digunakan untuk menangkap mangsa
dan alat pertahanan, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai tipe rambut sensor.
Tubuhnya dibagi dua bagian yaitu Sefalotoraks dan Abdomen. Sefalotoraks
ditutup oleh karapas atau pelindung kepala yang bisanya mempunyai sepasang mata
median dan 2-5 pasang mata lateral di depan ujung depan. Sefalotoraks tidak bersegmen.
Beberapa kalajengking yang
hidup di gua dan di sekitar permukiman tidak mempunyai mata. Abdomen terdiri atas
12 ruas yang jelas, dengan bagian lima ruas terakhir membentuk ruas metasoma yang
oleh kebanyakan orang menyebutnya ekor. Ujung abdomen disebut telson, yang bentuknya
bulat mengandung kelenjar racun (venom). Alat penyengat berbentuk lancip tempat
mengalirkan venom. Pada bagian ventral, kalajengking mempunyai sepasang organ sensoris
yang bentuknya sepert sisir unik disebut pektin. Pektin ini biasanya lebih
besar dan mempunyai gigi lebih banyak pada yang jantan dan digunakan sebagai sensor
terhadap permukaan tekstur dan vibrasi. Pektin juga bekerja sebagai kemoreseptor
(sensor kimia) untuk mendeteksi feromon (komunikasi kimia).
Kalajengking mempunyai sepasang
umbai-umbai yang kuat dan cakar bentuk penjepit (Pedipalpus) yang terletak tepat
di depan 4 pasang kaki. Kaki disesuaikan untuk berjalan, cephalothorax tidak bersegmen
dan tertutup oleh selembar lempeng kitin tebal yang disebut dengan Carapace.
Kalajengking tergolong serangga
yang aktif di malam hari (nokturnal) dan siang hari (diurnal). Ia juga merupakan
hewan predator pemakan serangga, laba-laba, kelabang, dan kalajengking lain yang
lebih kecil. Kalajengking yang lebih besar kadang-kadang makan vertebrata seperti
kadal, ular dan tikus. Mangsa terdeteksi oleh kalajengking melalui sensor vibrasi
organ pektin. Pedipalpi mempunyai susunan rambut sensor halus yang merasakan vibrasi
dari udara. Ujung-ujung tungkai mempunyai organ kecil yang dapat mendeteksi vibrasi
di tanah. Kebanyakan kalajengking adalah predator penyerang yang mendeteksi mangsa
ketika ia datang mendekat.
Permukaan tungkai, pedipalpi, dan tubuh juga
ditutupi rambut seta yang sensitif terhadap sentuhan langsung. Meskipun kalajengking
dilengkapi dengan venom untuk pertahanan dan mendapat mangsa, kalajengking sendiri
jatuh menjadi mangsa bagi mahluk kalin seperti kelabang, tarantula, kadal pemakan serangga, ular, unggas (terutama burung hantu), dan mamalia (termasuk kelelawar, bajing dan tikus pemakan pemakan serangga). Halnya predator lainnya, kalajengking yang jelas terpisah, dan kembali yang padam. Bisa masuk ke dalam komplek perumahan dan gedung ketika daerah teritorialnya hancur oleh pembangunan, penebangan hutan atau banjir dan sebagainya.
Tingginya populasi kalajengking dapat menjadi masalah dalam beberapa keadaan. Kalajengking sulit dikendalikan dengan hanya menggunakan insektisida. Oleh karena itu, strategi pengendalian pertama yaitu untuk memodifikasi daerah sekitar struktur permukiman atau pengendalian fisik yang dapat dilakukan yaitu:
1. Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan, batu, bata, dan berbagai benda di sekitar gedung.
2. Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumah. Cabang pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3. Taruhlah container di dalam tempat sampah tidak langsung berhubungan dengan tanah.
4. Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan langsung di api.
5. Tutuplah dan retakan yang di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.
6. Pasanglah kawat kasa pada jendela, pint , dan tetap dijaga dari kerusakandan lain-lain.
7. Gunakan lampu “black light” pada malam hari untuk memeriksa keberadaan kalajengking. Tangkaplah menggunakan tang yang besar dan panjang, kemudian lepas kembali di alam atau anda hancurkan.
8.
Berbagai jenis digunanakan, meski kurang begitu efektif insektisida residual dapat dilakukan pada bagian dasar rumah yang dicurigai banyak terdapat kalajengking.
9. Apabila disengat kalajengking, segeralah lakukan pengompresan dingin dengan ice pack, dan segera pergi ke dokter.
Selain pengendalian secara fisik tersebut,
terdapat pula pengendalian secara biologi yaitu menggunakan hewan pemangsa atau predator kalajengking. Meski memiliki
sengatan yang mematikan, kalajengking tidak lepas juga dari sasaran predatornya.
Predator kalajengking antara lain kelabang, kadal, ular , burung, dan kera. Kadang-kadang
kalajengking juga saling memangsa. Biasanya kalajengking perempuan yang memangsa
kalajengking laki-laki.
Sedangkan pengendalian secara kimia yang
dapat dilakukan adalah dengan berusaha mengurangi populasi kalajengking, yaitu melakukan
penyemprotan dengan bahan kimia Dieldrin 0,5% atau DDT 10%, Chlordane
20 % dan Piretrum 0,2% di dalam minyak yang encer dan telah dianjurkan.