widget

Jumat, 27 Juni 2014

Apa Itu Kalajengking?

Kalajengking adalah hewan penyengat yang sangat berbahaya. Hewan ini sudah ada sejak 400 juta tahun lalu. Diperkirakan ada sekitar 600 spesies yang tersebar di bumi ini.
Kalajengking tergolong Arthropoda pengganggu kesehatan. Ia menjadi perhatian manusia karena kemampuannya menimbulkan kasakitan dan katakutan akan racun yang dikeluarkan ketika menyengat. Kalajengking juga merupakan komponen penting di dalam suatu ekosistem, dan merupakan satu di antara Arthropoda Terstian tertua. Fosilnya sejak zaman Paleozoik 430 juta tahun yang lalu dengan penampilan yang serupa dengan yang ditemukan saat ini.
Kalajengking merupakan artropoda beracun, kerabat laba-laba, tungau, caplak dan lain-lain. Kini diketahui 1400 jenis di seluruh dunia. Kalajengking punya tubuh yang panjang dan ekor beruas yang berujung sebagai penyengat beracun. Kakinya terdiri atas empat pasang dan sepasang pedipalpi dengan bentuk seperti pinset di ujung, yang digunakan untuk menangkap mangsa.
Kalajengking mendiami habitat yang luas mulai dari gurun, hingga hutan, gua dan padang rumput luas, bahkan ditemukan di bawah tumpukan batu salju pada ketinggian di atas 12.000 kaki di pegunungan Himalaya Asia. Contoh jenis kalajengking yang banyak ditemukan di Asia termasuk Indonesia adalah jenis Heterometrus Spinifer (Asian forest scorpion).
Sebagaimana Arachnida, kalajengking mempunyai mulut yang disebut khelisera, sepasang pedipalpi, dan empat pasang tungkai. Pedipalpi seperti capit terutama digunakan untuk menangkap mangsa dan alat pertahanan, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai tipe rambut sensor. Tubuhnya dibagi dua bagian yaitu Sefalotoraks dan Abdomen. Sefalotoraks ditutup oleh karapas atau pelindung kepala yang bisanya mempunyai sepasang mata median dan 2-5 pasang mata lateral di depan ujung depan. Sefalotoraks tidak bersegmen.
Beberapa kalajengking yang hidup di gua dan di sekitar permukiman tidak mempunyai mata. Abdomen terdiri atas 12 ruas yang jelas, dengan bagian lima ruas terakhir membentuk ruas metasoma yang oleh kebanyakan orang menyebutnya ekor. Ujung abdomen disebut telson, yang bentuknya bulat mengandung kelenjar racun (venom). Alat penyengat berbentuk lancip tempat mengalirkan venom. Pada bagian ventral, kalajengking mempunyai sepasang organ sensoris yang bentuknya sepert sisir unik disebut pektin. Pektin ini biasanya lebih besar dan mempunyai gigi lebih banyak pada yang jantan dan digunakan sebagai sensor terhadap permukaan tekstur dan vibrasi. Pektin juga bekerja sebagai kemoreseptor (sensor kimia) untuk mendeteksi feromon (komunikasi kimia).
Kalajengking mempunyai sepasang umbai-umbai yang kuat dan cakar bentuk penjepit (Pedipalpus) yang terletak tepat di depan 4 pasang kaki. Kaki disesuaikan untuk berjalan, cephalothorax tidak bersegmen dan tertutup oleh selembar lempeng kitin tebal yang disebut dengan Carapace.
Kalajengking tergolong serangga yang aktif di malam hari (nokturnal) dan siang hari (diurnal). Ia juga merupakan hewan predator pemakan serangga, laba-laba, kelabang, dan kalajengking lain yang lebih kecil. Kalajengking yang lebih besar kadang-kadang makan vertebrata seperti kadal, ular dan tikus. Mangsa terdeteksi oleh kalajengking melalui sensor vibrasi organ pektin. Pedipalpi mempunyai susunan rambut sensor halus yang merasakan vibrasi dari udara. Ujung-ujung tungkai mempunyai organ kecil yang dapat mendeteksi vibrasi di tanah. Kebanyakan kalajengking adalah predator penyerang yang mendeteksi mangsa ketika ia datang mendekat.
Permukaan tungkai, pedipalpi, dan tubuh juga ditutupi rambut seta yang sensitif terhadap sentuhan langsung. Meskipun kalajengking dilengkapi dengan venom untuk pertahanan dan mendapat mangsa, kalajengking sendiri jatuh menjadi mangsa bagi mahluk kalin seperti kelabang, tarantula, kadal pemakan serangga, ular, unggas (terutama burung hantu), dan mamalia (termasuk kelelawar, bajing dan tikus pemakan pemakan serangga). Halnya predator lainnya, kalajengking yang jelas terpisah, dan kembali yang padam. Bisa masuk ke dalam komplek perumahan dan gedung ketika daerah teritorialnya hancur oleh pembangunan, penebangan hutan atau banjir dan sebagainya.
Tingginya populasi kalajengking dapat menjadi masalah dalam beberapa keadaan. Kalajengking sulit dikendalikan dengan hanya menggunakan insektisida. Oleh karena itu, strategi pengendalian pertama yaitu untuk memodifikasi daerah sekitar struktur permukiman atau pengendalian fisik yang dapat dilakukan yaitu:
1. Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan, batu, bata, dan berbagai benda di sekitar gedung.
2. Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumah. Cabang pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.
3. Taruhlah container di dalam tempat sampah tidak langsung berhubungan dengan tanah.
4. Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan langsung di api.
5. Tutuplah dan retakan yang di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.
6. Pasanglah kawat kasa pada jendela, pint , dan tetap dijaga dari kerusakandan lain-lain.
7. Gunakan lampu “black light” pada malam hari untuk memeriksa keberadaan kalajengking. Tangkaplah menggunakan tang yang besar dan panjang, kemudian lepas kembali di alam atau anda hancurkan.
8.   Berbagai jenis digunanakan, meski kurang begitu efektif insektisida residual dapat dilakukan pada bagian dasar rumah yang dicurigai banyak terdapat kalajengking.
9. Apabila disengat kalajengking, segeralah lakukan pengompresan dingin dengan ice pack, dan segera pergi ke dokter.
Selain pengendalian secara fisik tersebut, terdapat pula pengendalian secara biologi yaitu menggunakan hewan pemangsa atau predator kalajengking. Meski memiliki sengatan yang mematikan, kalajengking tidak lepas juga dari sasaran predatornya. Predator kalajengking antara lain kelabang, kadal, ular , burung, dan kera. Kadang-kadang kalajengking juga saling memangsa. Biasanya kalajengking perempuan yang memangsa kalajengking laki-laki.
Sedangkan pengendalian secara kimia yang dapat dilakukan adalah dengan berusaha mengurangi populasi kalajengking, yaitu melakukan penyemprotan dengan bahan kimia Dieldrin 0,5% atau DDT 10%, Chlordane 20 % dan Piretrum 0,2% di dalam minyak yang encer dan telah dianjurkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

w
o
n
t
c
a
d
n
a
,
g
i
b
k
n
i
h
T